Sabahat, duniaku kini tiada ceria
Hilang entah kenapa
Detik2 yang kulalui
Penuh duri
Bilakah segalanya akan berakhir
Kedamaian kan muncul kembali
Mengapa tangisan itu
Masih terdengar lagi
Adakah…
Tiada siapa perduli
Sahabatku bersabarlah atas ujian tuhan
Kepahitan yang kau lalui pasti berakhir
Kedamaian kan muncul kembali
Dimana nilai kemanusiaan
Sebagai hamba tuhan
Hadirlah kedamaian
Kami memerlukan
Di bumi yang tlah besa
Tumbuh pohon nan subur
(Brother : Sahabat)
Sahabat sebagai seorang teman, tempat berbagi rasa dan asa. Tempat yang kata orang berbagi duka maupun duka. Bukan tempat berbagi materi. Sahabat terkadang dibutuhkan untuk berbagi masalah dan kesedihan tatkala keluarga tak ada di sisi kita. Sahabat diperlukan untuk sebuah pertimbangan tatkala orang tua jauh dari capaian kita karena jarak dan waktu menghalangi.
Namun, tak sedikit juga orang yang katanya sahabat hanya ada ketika dia membutuhkan kita atau saat ada sebuah keuntungan yang dia peroleh dari kita. Pragmatis dan situatis. Tetapi ketika kita membutuhkan dia, ternyata menghilang dan menjauh.
Dalam sebuah pergerakan dan perjuangan, misalnya. Sahabat mutlak dibutuhkan agar beban yang diamanahkan menjadi ringan ketika sama-sama dipikul.harga-menghargai hasil kerja sahabat sebagai sebuah apresiasi atas upaya yang dilakukannya untuk membantu meringankan beban kita. Bukannya malah menghina hasil kerja orang lain yang pastinya akan menjatuhkan semangat yang akhirnya membuat orang lain tidak akan mau terlibat lagi. Jangankan memuji, mengucapkan terima kasih saja atas kerja-kerja yang dilakukan sahabat kita yang sama-sama berada dalam sebuah pergerakan saja rasanya jarang. Teringat cerita seorang teman, ketika dia dilibatkan dalam sebuah acara, walaupun dia tidak masuk dalam struktur kepanitiaan acara tersebut, tapi dia memiliki beban moral sebagai salah seorang pengurus organisasi yang mengangkatkan acara tersebut. Ketika dia terlibat dalam menghandle acara tersebut, sekolahnya yang padat ketika acara itu diadakan terpaksa dia tinggalkan demi suksesnya acara itu. Namun ketika evaluasi dilakukan, betapa kecewanya ia karena sang pimpinan organisasi menganggap acara itu gagal, buruk dan sebagainya. Upaya, kerja keras dan pengorbanan yang dilakukannya tidak dianggap sama sekali oleh pimpinan organisasi. Itulah yang membuatnya begitu kecewa dan semakin malas untuk terlibat lagi dalam organisasi itu.
Memang terkadang kita dalam kebersamaan, dalam sebuah yang katanya persahabatan, bisa jadi yang timbul karena ada sebuah upaya sengaja untuk menyatukan misalnya dalam organisasi, rasa saling harga-menghargai begitu jarang kita lakukan. Sekedar tanya kabar, bagaimana sekolah, kapan ujian, dan sebagainya walaupun hanya sekedar basa-basi begitu jarang dan bisa jadi tidak pernah kita lakukan. Kita hanya butuh seseorang agar bagaimana sebuah organisasi yang kita pimpin atau kita ikuti bisa mengangkatkan acara dengan sukses. Kita hanya butuh seseorang untuk mensukseskan agenda-agenda kita, bukan butuh karena memang kita merasa beliau saudara kita, beliau sahabat kita, sehingga juga butuh perhatian dari kita, butuh kepedulian dari kita.
Itulah sebabnya mengapa terkadang seseorang menjadi malas terlibat, tidak mau bergabung, berusaha perlahan-lahan mundur dan akhrinya menghilang. Kepedulian dan atensi dari kita, itu juga yang menjadi pemicunya. Kita hanya butuh orang lain ketika kita memerlukan tenaga untuk mensukseskan keinginan kita, tanpa mau dan mencoba mengetahui keadaan dan kondisi sahabat kita tersebut.