detik-detik yang semakin mendekati…
1
Mei 21, 2009
Mei 20, 2009
Semakin Penasaran, tunggu tanggal mainnya.
Mei 1, 2009
Arah koalisi partai-partai menjelang pemilihan presiden baru semakin menemukan titik terang. Yang jelas untuk saat ini sudah ada beberapa nama yang mendaulat dirinya untuk maju dalam “pertarungan” menuju kursi orang nomor 1 di negeri ini. Menurut telusuran www.fauziamri.wordpress.com ada beberapa nama yang akan muncul sebagai capres, yaitu :
1. Jusuf kalla – Wiranto
2. Mega/Puan – Prabowo Subiyanto
3. SBY – ???
Dari tiga nama prediksi di atas, yang masih belum jelas menemukan pendamping sampai sekarang adalah SBY, walaupun sebenarnya dua nama lainnya juga belum pasti, tapi dari komunikasi politik yang dilakukan menemukan indikasi koalisi yang begitu kuat.
Nah, untuk penentuan partai mana yang akan mendampingi SBY yang notabene dicalonkan oleh Demokrat untuk pilpres esok masih belum jelas sebab begitu banyaknya partai yang tertarik untuk “meminang” Demokrat mengingat perolehan suara mereka yang begitu besar ketika pemilu kemarin. Ada PAN, PPP, PKB dan juga PKS yang merupakan partai urutan keempat pemilu kemarin.
Ada sebuah rumusan menarik untuk menentukan partai mana yang akan mendampingi SBY dan Demokrat dalam pilpres nanti. Analogi rumusnya sebagai berikut : sebelumnya Demokrat (SBY-red) berpasangan dengan Jusuf Kalla. Lalu berdasarkan hasil Rapimnassus, Golkar sepakat mencalonkan kadernya dalam hal ini JK sebagai capres. Jadi Golkar secara otomatis memisahkan diri dari koalisi yang telah mereka bangun sejak 2004 kemarin. Pada pemilu 2009 ini, Demokrat memiliki nomor urut partai 31 dan Golkar memiliki nomor urut 23. Jika keluarnya Golkar dari koalisi sebelumnya sama dengan pengurangan, maka yang menjadi pendamping SBY dapat ditentukan dengan perhitungan berikut :
31 – 23 = 8
Nah, jadi yang mendampingi Demokrat & SBY pada pilpres nanti adalah partai dengan nomor urut 8. Partai itu adalah PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Cukup masuk akal bukan

April 27, 2009

Kini ko ha dunia makin aneh se, kadang kalo’ awak pikia-pikia yo, paniang surang se awaknyo. Tu manga jo awak pikia lai, rancak dilalui se lai. Apo lai iduik di nagari aneh ko ha. So jalani se dengan sungguah-sungguah sambia batawaka ka Allah.
Caliak se kini ko kan musimnya pemilu. Apo tu ? yang jaleh ndak karupuak do. Pamilu tu tampek awak miliah wakie tuk duduak mewakiakan suaro awak di pemerintahan. Tapi kadang awak indak miliah wakie awak do, awak miliah wakie inyo surang, kadang pulo awak miliah tukang ota, tu makonyo, hati-hati miliah wakie di parlemen. Kalo itu lah liwat.
Kini ko nagari awak ko sadang dipaniangan eh salah disibuakan dengan pamilihan urang nomor satu alias presiden nagari ko. Caliak se kini ko pimpinan-pimpinan parpol, bahkan jo pemerintahan surang lah sibuak galang sinan-koalisi siko tuk cari dukungan. Tapi nan disayangan mangapa dek banyakna yang nio duduk di Hot Seat urang nomor satu, banyak manzholimi rakyat. Iko terutamo untuak para pejabat nagari yang kini sato jo mancalonkan diri menjadi presiden. Antah dek sibuak galang koalisi, cari dukungan ato dek ndak ado program karajo nan ka dikarajoan lai, rakyat dipadiaan se. Padahal masih banyak nan harus dikarajoan. Tapi caliak lah kini, para pemimpin tu sibuak dengan koalisi-kualinyo. Ba kaba Lumpur lapindo, ba carito TKI awak nan di lua nagari, ba lapangan karajo di nagari sendiri, masih banyak yang lain. Seolah-olah itu ilang se mah, bantuak ndak ado kejadian. Galang koalisi buliah, tapi jan lupo rakyat. Apolai kini ko presiden jo wapresnyo samo-samo mencalonkan jadi presiden pulo, takuiknyo, indak ka salasai karajo mereka tu. Kini se kaduonyo dikabarkan “bacakak” liak. Tapi antahlah.
Tuk pimpinan-pimpinan parpol yang kini juga turuik galang koalisi sinan-koalisi siko, jan jual “kombur” se beko pas kampanye. Alah bosen rakyat ko dengan janji-janji se. Rakyat butuh tindakan nyato segera.!
April 26, 2009
Tanggal 21 April kemarin Indonesia kembali memperingati lahirnya seorang sosok wanita yang katanya merupakan tokoh wanita pelepas wanita-wanita pada masanya dari keterkungkungan, keterbelakangan, yang hanya tahu sumur, kasur dan dapur saja. Ya, Kartini, sosok wanita yang menjadi sumber inspirasi bagi para wanita untuk mendapatkan kesamaan derajat dan kedudukan dengan kaum pria, bebas mengekspresikan dirinya, bebas memperoleh pendidikan tinggi tanpa batas, bebas sebebas yang dilakukan laki-laki. Namun tahukah kita fakta yang sesungguhnya tentang penonjolan Kartini sebagai tokoh wanita Indonesia? Mungkin sangat sedikit yang mengetahuinya. Mengapa harus Kartini? Apakah tidak ada wanita lain yang lebih kokoh, tangguh, tegar dan luar biasa. Ada Cut Nyak Dien dari Aceh, ada Rohana Kudus dari Minang dan masih banyak wanita luar biasa lainnya.
Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?” Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?
Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University. Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.
Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita. Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita.
Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.
Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.”
Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia. Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).
Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.
Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.
Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).
Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.
Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini. Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.
Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara. Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:
“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.” Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonialis Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:
”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!… Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235).
Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia.
Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).
Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).
Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).
Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan.
April 20, 2009
9 April 2009 telah kita lalui bersama. Hari yang begitu istimewa bagi negara ini sebab pada tanggal tersebutlah arah dan gerak bangsa ini ditentukan. Pemilihan Umum untuk menentukan anggota legislatif yang akan menjadi wakil rakyat negeri ini. Semuanya ditentukan pada tanggal 9 April 2009 kemarin. Siapa yang menentukan? Tentunya Anda, saya dan kita yang bisa menjawab itu semua. Ya penentuan wakil rakyat yang akan duduk di legislatif adalah rakyat Indonesia sendiri.
44 partai politik berlaga untuk mendapatkan “hati” rakyat agar dipilih dalam pemilu. Kini hampir dua minggu pemilu berlalu. Hangar-bingar kampanye, “serangan fajar” pilih ini-contreng itu yang dilakukan beberapa parpol menjelang pemilihan, usai sudah. Pemilihan telah dilakukan, pemenang pun sudah dapat ditebak. Ada yang suaranya naik menanjak, ada yang sedang-sedang saja bahkan tidak sedikit yang turun drastis. Semuanya sudah terjadi. Pemilu legislatif usai sudah. Caleg-caleg yang memperoleh suara yang mencapai BPP kini “sumringah” karena akan menikmati empuknya kursi dewan. Sementara caleg-caleg yang dukungannya minim kini harus “putar otak” untuk mengembalikan dana kampanye yang besar yang sudah terbuang begitu saja. Tidak sedikit yang pusing, bahkan banyak juga yang sudah jadi gila, stress dan akhirnya mengambil jalan pintas untuk mengakhiri ini semua. Begitu bodohnya.
Elit-elit partai politik kini pun berubah haluan agenda bahasan. Sebelumnya saling menonjolkan kelebihan partainya, tuduh sana-cela sini terhadap partai-partai yang lain. Sekarang sudah bisa bicara kawan-kawan partai mana saja yang bisa dirangkul dan digandeng untuk maju ke pertarungan selanjutnya. Sebelumnya rival yang cukup bahkan sangat berat sekarang sudah menjadi kawan “erat”. Bahkan ada petinggi-petinggi partai yang sudah lebih sepuluh tahun tidak saling “sapa” karena luka di sejarah lama, sekarang sudah seperti kawan akrab yang sudah lama tidak bertemu.
Ambil contoh Prabowo-Wiranto, lawan tanding ketika tragedi ’98 pecah. Dua pejabat tinggi di dunia kemiliteran Indonesia itu sepuluh tahun terakhir ini seperti dua orang musuh yang kelihatannya tidak akan pernah damai karena luka lama. Wiranto yang ketika itu menjadi panglima TNI memecat Prabowo yang kala itu menjadi Pangkostrad dengan alas an ingin berbuat makar, tidak taat perintah, dan penyebab terjadinya tragedy ’98 di Indonesia. Sejak saat itu, Prabowo seperti menaruh “luka” lama itu terhadap Wiranto yang akan dibawanya hingga ke anak-cucu. Entah angin apa yang membawa kedua orang mantan petinggi militer tersebut, kini mereka keduanya menjadi petinggi partai-partai yang cukup “ditakuti” oleh partai lainnya. Wiranto dengan Partai Hanura-nya dan Prabowo dengan Gerindra-nya. Sebelum pemilu, kedua orang tersebut mendaulat dirinya masing-masing sebagai capres. Namun pasca pemilihan, suara-suara yang diperoleh kedua partai tersebut tidak mencukupi ketentuan yang disyaratkan, sehingga kedua pejabat partai tersebut harus berpikir ulang untuk melanjutkan obsesinya maju sebagai capres. Ketika itulah komunikasi-komunikasi politik dua orang rival tersebut semakin intens. Sering terlihat bersama bahkan tidak jarang sering tertawa bersama. Entah tertawa yang murni karena ingin perbaikan hati atau tertawa karena ada kepentingan.
Lain lagi halnya dengan Jusuf Kalla. Orang nomor dua di negeri ini juga semakin lain saja. Ketua Umum Partai Golkar yang sekarang masih menjabat sebagi Wakil Presiden Indonesia itu pada awalnya masih bingung alias tidak tahu menentukan arah dirinya akan menjadi apa pasca pemilu nanti. Kemudian Golkar mengadakan Mukernas yang membahas gerak kedepan partai Pohon Beringin itu. Ketika itu juga Partai Golkar juga sepakat mendukung salah satu kadernya untuk maju sebagai presiden. Akhirnya didaulatlah Jusuf Kalla sebagai capres dari Partai Golkar. Dalam setiap kampanye, selalu ada “partisi” JK for President, sehingga mengakibatkan pemerintahan negara ini seolah-olah terpecah, antara SBY dan JK. Namun, pasca pemilu kemarin melihat suara partainya turun drastic, JK dan Golkar kembali berpikir ulang untuk maju sebagai capres dan kembali mendekat ke SBY dan Demokrat yang suaranya naik signifikan.
Lain Wiranto-Prabowo, lain JK, lain lagi Amien Rais. Seperti kita ketahui bahwa Amien Rais sering bersuara lantang terhadap pemerintahan SBY. Mengkritik sana-kritik sini. Tapi, beberapa hari yang lalu, media menyoroti kedatangan Amien Rais kepada SBY. Amien mulai menyiapkan langkah-langkah selanjutnya untuk perjuangan selanjutnya. Banyak kabar beredar Amien mau bersatu bersama SBY untuk jadi Cawapres-nya SBY. Rusak Muka cermin dipecah.
Dalam dunia politik memang benar, tidak ada yang namanya kawan abadi, lawan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Dulunya adalah oposisi. Sekarang bisa berubah menjadi co-posisi dalam balutan kerja sama yang diistilahkan koalisi. Koalisi demi ambisi. Koalisi demi obsesi. Wallahu’alam.
April 17, 2009
Setelah usai lebih dari seminggu, namun pemilihan umum (pemilu) yang diadakan tanggal 9 April 2009 meninggalkan kenangan yang mendalam. Mendalam yang cukup manis bagi caleg-caleg yang melenggang duduk di kursi “empuk” dewan. Kenangan yang pahit bagi caleg-caleg yang gagal maju dan tidak dapat kursi di dewan. Hal yang ditakutkan adalah ketika caleg-caleg yang tidak mendapat kursi di gedung dewan, mereka beramai-ramai membawa kursi dari rumahnya untuk diletakkan di gedung dewan (he…he…he…)
Banyak caleg yang seketika mengetahui suara dukungannya untuk menjadi caleg tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan langsung frustasi. Seperti prediksi banyak pihak bahwa pemilu kali ini akan menghasilkan banyak caleg yang stress akibat tidak terpilih. Berikut daftar beberapa caleg yang stress, mengambil jalan pintas dan sebagainya akibat tidak terpilih menjadi anggota dewan (disarikan dari beberapa sumber).
1. kristofer Maakh, caleg partai G****R nomor urut 10 untuk DPRD Kupang kalut dan nekat menghabisi dirinya dengan menabrakkan sepeda motor di Jalan Timor, Desa Naibohat, Kabupaten Kupang, NTT
2. M. Dahlan, caleg P**N untuk DPRD Kabupaten Bulukumba, Sulsel, menyegel SDN 256 Kajang selama dua hari setelah perolehan suaranya tipis.
3. SH, caleg P*B untuk DPRD Banjar, Jawa Barat nekat mengakhiri hidupnya dengan gantung diri bersama bayi yang dikandungnya.
4. Maswati, caleg P**I nomor urut 2 untuk DPRD Tasikmalaya, meninggal secara mendadak dirumahnya diduga serangan jantung akibat perolehan suaranya tipis.
5. Puluhan caleg plus tim sukses masuk ke rehabilitasi Mental, Sosial dan Narkoba Bungkanel, Banyumas. Feb, salah satu caleg bahkan masih berorasi kampanye di kamar pengobatan
6. Sedikitnya 10 caleg yang gagal menembus DPRD dan Kabupaten di sekitar Cirebon menjalani terapi di Majelis Dzikir Darul Lukman, Desa Sinarrancang, Kecamatan Mundu, Cirebon asuhan Ustadz H.M. Ujang Bustomi.
7. TG, caleg yang masih duduk di kursi DPRD Sumatera Utara mulai jarang masuk kantor setelah gagal untuk duduk kembali sebagai anggota dewan. Padahal dia sudah menghabiskan dana kampanye Rp 100 Juta
8. Djuhaedi Umbara, Ketua DPC R*******N Demak stroke pasca pemilu setelah mengetahui suara partainya jeblok.
Tuuu lah, siapa juga yang nyuruh jadi caleg. Jadi anggota legislatif tu bukan lahan untuk mencari penghasilan baru, tapi menjalankan dan melaksanakan amanah rakyat banyak. Kalau sudah materi orientasinya, apapun dilakukan, semua cara dikerahkan. Mengeluarkan modal banyak dengan harapan bisa jadi anggota dewan, ketika ndak terpilih jadi stress dan gila. Ya mudah-mudahan saja yang jadi anggota dewan sekarang bisa amanah dalam menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan rakyat. Semoga.
April 16, 2009
cerdas : Bukanlah ukuran tentang kepintaran seseorang dalam suatu akademik, bukan kepiawaian seseorang memipin sebuah organisasi, Osis, BEM dan semacamnya,
tapi cerdas adalah ukuran kemampuan seseorang dalam merubah dirinya, membuat dirinya lebih baik lagi
(mario teguh)

April 16, 2009
KALAU NAK PINTAR
BELAJAR
KALAU NAK BERHASIL
USAHA








.jpg)

