9 April 2009 telah kita lalui bersama. Hari yang begitu istimewa bagi negara ini sebab pada tanggal tersebutlah arah dan gerak bangsa ini ditentukan. Pemilihan Umum untuk menentukan anggota legislatif yang akan menjadi wakil rakyat negeri ini. Semuanya ditentukan pada tanggal 9 April 2009 kemarin. Siapa yang menentukan? Tentunya Anda, saya dan kita yang bisa menjawab itu semua. Ya penentuan wakil rakyat yang akan duduk di legislatif adalah rakyat Indonesia sendiri.

44 partai politik berlaga untuk mendapatkan “hati” rakyat agar dipilih dalam pemilu. Kini hampir dua minggu pemilu berlalu. Hangar-bingar kampanye, “serangan fajar” pilih ini-contreng itu yang dilakukan beberapa parpol menjelang pemilihan, usai sudah. Pemilihan telah dilakukan, pemenang pun sudah dapat ditebak. Ada yang suaranya naik menanjak, ada yang sedang-sedang saja bahkan tidak sedikit yang turun drastis. Semuanya sudah terjadi. Pemilu legislatif usai sudah. Caleg-caleg yang memperoleh suara yang mencapai BPP kini “sumringah” karena akan menikmati empuknya kursi dewan. Sementara caleg-caleg yang dukungannya minim kini harus “putar otak” untuk mengembalikan dana kampanye yang besar yang sudah terbuang begitu saja. Tidak sedikit yang pusing, bahkan banyak juga yang sudah jadi gila, stress dan akhirnya mengambil jalan pintas untuk mengakhiri ini semua. Begitu bodohnya.

Elit-elit partai politik kini pun berubah haluan agenda bahasan. Sebelumnya saling menonjolkan kelebihan partainya, tuduh sana-cela sini terhadap partai-partai yang lain. Sekarang sudah bisa bicara kawan-kawan partai mana saja yang bisa dirangkul dan digandeng untuk maju ke pertarungan selanjutnya. Sebelumnya rival yang cukup bahkan sangat berat sekarang sudah menjadi kawan “erat”. Bahkan ada petinggi-petinggi partai yang sudah lebih sepuluh tahun tidak saling “sapa” karena luka di sejarah lama, sekarang sudah seperti kawan akrab yang sudah lama tidak bertemu.

Ambil contoh Prabowo-Wiranto, lawan tanding ketika tragedi ’98 pecah. Dua pejabat tinggi di dunia kemiliteran Indonesia itu sepuluh tahun terakhir ini seperti dua orang musuh yang kelihatannya tidak akan pernah damai karena luka lama. Wiranto yang ketika itu menjadi panglima TNI memecat Prabowo yang kala itu menjadi Pangkostrad dengan alas an ingin berbuat makar, tidak taat perintah, dan penyebab terjadinya tragedy ’98 di Indonesia. Sejak saat itu, Prabowo seperti menaruh “luka” lama itu terhadap Wiranto yang akan dibawanya hingga ke anak-cucu. Entah angin apa yang membawa kedua orang mantan petinggi militer tersebut, kini mereka keduanya menjadi petinggi partai-partai yang cukup “ditakuti” oleh partai lainnya. Wiranto dengan Partai Hanura-nya dan Prabowo dengan Gerindra-nya. Sebelum pemilu, kedua orang tersebut mendaulat dirinya masing-masing sebagai capres. Namun pasca pemilihan, suara-suara yang diperoleh kedua partai tersebut tidak mencukupi ketentuan yang disyaratkan, sehingga kedua pejabat partai tersebut harus berpikir ulang untuk melanjutkan obsesinya maju sebagai capres. Ketika itulah komunikasi-komunikasi politik dua orang rival tersebut semakin intens. Sering terlihat bersama bahkan tidak jarang sering tertawa bersama. Entah tertawa yang murni karena ingin perbaikan hati atau tertawa karena ada kepentingan.

Lain lagi halnya dengan Jusuf Kalla. Orang nomor dua di negeri ini juga semakin lain saja. Ketua Umum Partai Golkar yang sekarang masih menjabat sebagi Wakil Presiden Indonesia itu pada awalnya masih bingung alias tidak tahu menentukan arah dirinya akan menjadi apa pasca pemilu nanti. Kemudian Golkar mengadakan Mukernas yang membahas gerak kedepan partai Pohon Beringin itu. Ketika itu juga Partai Golkar juga sepakat mendukung salah satu kadernya untuk maju sebagai presiden. Akhirnya didaulatlah Jusuf Kalla sebagai capres dari Partai Golkar. Dalam setiap kampanye, selalu ada “partisi” JK for President, sehingga mengakibatkan pemerintahan negara ini seolah-olah terpecah, antara SBY dan JK. Namun, pasca pemilu kemarin melihat suara partainya turun drastic, JK dan Golkar kembali berpikir ulang untuk maju sebagai capres dan kembali mendekat ke SBY dan Demokrat yang suaranya naik signifikan.

Lain Wiranto-Prabowo, lain JK, lain lagi Amien Rais. Seperti kita ketahui bahwa Amien Rais sering bersuara lantang terhadap pemerintahan SBY. Mengkritik sana-kritik sini. Tapi, beberapa hari yang lalu, media menyoroti kedatangan Amien Rais kepada SBY. Amien mulai menyiapkan langkah-langkah selanjutnya untuk perjuangan selanjutnya. Banyak kabar beredar Amien mau bersatu bersama SBY untuk jadi Cawapres-nya SBY. Rusak Muka cermin dipecah.

Dalam dunia politik memang benar, tidak ada yang namanya kawan abadi, lawan abadi. Yang ada hanyalah kepentingan abadi. Dulunya adalah oposisi. Sekarang bisa berubah menjadi co-posisi dalam balutan kerja sama yang diistilahkan koalisi. Koalisi demi ambisi. Koalisi demi obsesi. Wallahu’alam.